Membangun Istana Pasir

 

Rasanya, nasi yang saya kunya tadi sulit untuk ditelan. Mendengarkan satu fakta yang tidak masuk akal namun nyata terjadi. Bagi saya yang “yatim” dalam kampus, harapan untuk menjadi bagian dari keluarga besar(nya) mendadak pupus. Tak ada kekuatan. Nirkeilmuan. Tidak cukup hanya bermodalkan iba. Harus apple to apple. “Kalau kamu tidak menguntungkan saya, jadi, buat apa saya membantumu.” Kira-kira begitulah kata yang pas sebagai gambaran kalau saya masih terus berjuang melanggengkan status sebagai seorang “Dosen.”

Banyak kejadian yang terjadi di dalam kendali. Maksutnya, by desain, pun by request. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan, kejadian seperti itu dianggap lumrah. Menempatkan kroni terdekatnya dalam rangkah (mungkin) melanjutkan trah kekuasaan tadi. Atau bisa saja karena adimumpung. Mumpung masih menjabat, bawa si A, si B. Toh nanti mereka tidak akan merem kedepannya. Balas budi akan berlaku. Sehingga tanpa tes pun bisa mendapatkan jatah. Ya Tuhan, sungguh luar biasa. Tapi anehnya mereka semua paham agama. Bahkan, formasi yang “dijegal” adalah formasi Hukum Islam. Benar-benar “teman” Tuhan sepertinya.

Sebagai orang biasa yang mempunyai cita-cita menyamai raja, ini sungguh membuat saya harus mempertimbangkan ulang apa yang sudah saya tetapkan. Mengingat, kemauan saya yang menjulang namun sujudnya jarang-jarang. Sesekali sujud hanya mensejajarkan kepala dengan lutut. Mau pakai modal harta juga tidak punya. Hanya popularitas sebagai orang yang paham borang. Sudah pasti itu basi. Kegiatan lima tahunan itu seringkali berganti-ganti kebijakan, sehingga lebih baik mengajari orang baru dari pada mempertahankan orang lama. Dan, nantinya saya terbuang. Tidak terpakai lagi.

 


Sambil mendengarkan cerita yang belum memasuki episode akhir itu, saya menyisir satu persatu, mereka, yang berjuang bukan lewat jalur “tol.” Dan saya mendapatkan beberapa gambaran, bahwa yang berjuang atas nama Tuhan nyatanya masih ada. Tunggu nasib saja. Karena campur tangan Tuhan dalam setiap kejadian sungguh di luar dugaan. Dan mereka yang mengatasnamakan Tuhan atas segala apa yang diperbuat, tinggal menunggu bomerang datang. Yang akan kembali meruntuhkan nasibnya sendiri. Yang akan mendekat hanya untuk berucap “kualat!.” Bukankah menggunting di dalam lipatan juga bisa terjadi?.

Saya tidak sedang kecewa, tidak juga dilema, atau bahkan merasa iri. Saya menganggap ini sebagai bunga api yang menghiasi malam-malam tahun baru. Hadirnya bisa membahagiakan, bisa juga mendatangkan kesedihan. Tergantung sisi mana dilihatnya.

Semoga saya selalu diuntungkan dengan lingkungan pesantren di mana saya bertumbuh. Dipupuk dengan petuah Abah yang hangat meneduhkan. Dan petuah-petuah itu nanti yang semoga akan terus terngiang, bahwa tidak akan kekurangan suatu apapun bagi mereka yang berjuang di jalan ilmu. Sekali lagi, semoga saja terus begitu. Meski saya tahu, keberagamaan saya tergolong biasa-biasa. Yang hanya menempatkan agama sebagai sebuah sekoci. Yang memberikan bantuan ketika kapal besar mulai karam. Tambal butuh. Mendekat ketika ingat. 

Komentar

Postingan Populer