Kata Abah: Corona dan Kegoblokan Berjamaah

Bisa dihitung jari dalam sebulan saya hadir mengikuti pengajian yang diampu oleh beliaunya, Abah Ali Maschan Moesa. Selain karena godaan bantal yang memikat dan remang lampu kamar yang khusyuk menyelimuti, memang dasarnya saya malas. Apalagi dibarengi dengan hujan rintik-rintik. Shubuh seperti ini betul-betul memanjakan. Bisa dibilang sebagai suasana surga yang dibocorkan oleh Tuhan di bumi.

Namun, jarang bukan berarti tidak pernah. Setiap kali saya turun ke bawah, ke musalah, rasanya saya sedang me-recharge energi. Menambah daya peka dan amunisi otak. Meski bisa dipastikan tema yang disampaikan oleh Abah yang tak ada habis-habisnya untuk saat ini ialah “Corona dan kegoblokan berjamaah.”

Mengapa demikian? Biarkan ia tetap menggantung dulu di sana, di tempatnya. Mari melihat realitas yang ada di sekeliling kita. Jika diperhatikan dengan baik dan dengan isi kepala yang dingin, mungkin perkataan Abah ada benarnya, mungkin juga bisa salah.

Saat ini kita sedang didera wabah virus Corona yang bahkan negara sekelas Amerika, yang memproklamirkan diri sebagai negara adidaya dan terkuat di dunia, pun dibuat kelabakan. Italia yang diberkati oleh gereja Vatikan juga tak mampu menyelamatkan diri. India yang dikenal sebagai pusat spiritualitas Timur juga tak bisa bertahan, tatanan sosialnya kacau akibat diberlakukan kebijakan lockdown. Bahkan, Arab Saudi juga mulai pontang-panting menutup Kota Suci-nya.

Jika sudah seperti ini, banyak spekulasi yang mengapung ke permukaan. Bagi pemangku kebijakan, mereka mengumandangkan genderang agar sama-sama berperang melawan wabah yang sedang merajai ini dengan jargon 3M, kemudian direvisi menjadi 5M. Mereka berusaha sekuat dan sebisa mungkin memeras otak untuk mencapai satu titik, di mana manusia terbebas dari belenggu virus yang penyebarannya tidak menunggu hitungan per sekian orang dalam satu harinya.

Di sisi yang lain, ada yang beranggapan bahwa Corona yang sedang mewabah ini merupakan bentuk peringatan Tuhan. Dikirimkan-Nya bala tentara yang kasat mata agar manusia menyadari segala dosa-dosa mereka. Ramai-ramai para retoris mengajak untuk mendekat kepada Tuhan, memperbanyak ibadah, dan mengakui segala salah dan dosa. Bahkan, ada juga yang keliling kampung dengan membaca wirid-wirid tertentu. Segala ritual, segala ajaran.

Dalam hati saya bergumam: Apakah memang benar Tuhan sedang marah? Jika memang benar, mengapa tentara yang dikirimnya menyasar seluruh umat manusia, bukankah masih ada yang taat? Mati atau lari, yang taat atau yang bejat. Sama saja, semua kena. Jika memang Corona ini hadir sebagai bentuk ujian agar manusia berangsur mendekat kepadanya agar meminta pertolongan, bukankah status-Nya sama dengan rentenir?

Sampai pada hari berikutnya Abah menjelaskan, bahwa pertanyaan dilematis yang sempat bersarang dalam pikiran saya bisa disimpulkan, adanya sesuatu di dunia ini tidak untuk memanipulasi apapun. Yang diberikan-Nya pada manusia ialah kehidupan itu sendiri. Mereka bebas menggunakan kehidupan ini untuk jalan kebaikan atau keburukan. Karena Tuhan bukan rentenir yang memanipulasi hamba-Nya. Jika ada yang memanipulasi, ialah hamba yang pantas dijuluki sebagai “rentenir agama.”

Sampai pada keterangan kegoblokan berjamaah ialah, jika ia lebih percaya pada satu sisi dan tidak mengindahkan sisi yang lain. Untuk itu, jangan berharap adanya dunya hasanah dan akhirat hasanah.

 

M. Yusuf


Komentar

Postingan Populer