AGAKNYA, SAYA HARUS BANYAK MEMBACA
Di
minggu-minggu ini saya membarter paket data dengan informasi yang tidak
sia-sia. Pasalnya, hampir setiap hari saya menikmati “jamuan” yang terhidang
menggiurkan di kanal media massa yang ditulis oleh Professor Masdar Hilmy, Bos
Inung, Gus Doktor Rijal Mumazziq, dan juga Professor Abdul Kadir Riyadi.
Kesemuanya, menurut saya, tidak ada yang saling timpang tindih. Pembawaan
karakter masing-masing penulis menambah greget saya untuk menuntaskan kata
perkata yang mereka susun. Meski kadang hanya tulisan “receh” (baca: opini),
namun tetap saja membuat saya mengangkat topi. Terkesima. Seraya bergumam dalam
hati, “kok bisa, ya, kepikiran seperti ini.”
Satu permisalan
ialah, tulisan yang disusun oleh Gus Rijal tentang mendiang Latta Mangeskar
sehari setelah ia berpulang. Dengan sangat apik Gus Rijal menyajikan hampir
semua sesi kehidupan wanita yang meninggal dalam usia 92 tahun ini. Bahkan sisi
terintim juga tidak abstain dari pandangannya, ialah di mana legenda Bollywood
ini memilih untuk tidak menikah, dan butuh berapa lama album duet bareng Bang
Haji Rhoma Irama bisa dirilis. Dalam tulisan itu juga seakan saya diajak untuk
meneladani tiga hal terpenting yang dilakukan oleh Mangeskar dalam menjalani
kehidupan, mulai dari konsistensi, kesederhanaan, dan totalitas. Menurut saya
yang awam dalam hal menulis namun suka membaca, tulisan seperti ini terlihat
gampang namun sebenarnya susah. Merunut cerita kehidupan seseorang tak ubahnya
seperti melakukan penelitian studi tokoh. Peralihan antar segmen adegan cerita
membutuhkan banyak data sebagai triangulasi. Belum lagi membandingkan karya dia
dengan karya yang sama dari tokoh lain dalam generasi tersebut. Intinya, kalau
tidak membaca banyak sumber, tidak akan bisa mengapungkan tulisan sekeren itu.
Selain
Gus Rektor Inaifas tadi, ada juga sosok Professor “anyaran” (baca: baru
beberapa bulan dilantik) yang saya lebih sering memanggilnya dengan panggilan
“Bos” Inung. Nama aslinya ialah Ahmad Zainul Hamdi. Sama-sama kelahiran
Lamongan. Dan alhamdulillahnya lagi, saya dan dia ketepatan satu almamater: Matholi’ul
Anwar. Namun bukan karena ini saya menganguminya, bukan karena kita satu
lulusan yang sama.
Dalam
perjalanan menuju kampus UINSA, Bos Inung seringkali mendengarkan dialog
tanya-jawab di sebuah channel radio. Menurutnya, mendengarkan obrolan radio seakan-akan
ada yang menemani. Dan ia rutinkan tiap pagi sambil membelah jalanan yang mulai
sedikit merayap. Pada satu momen ada seorang perempuan yang berpendapat bahwa,
“masak, macak, dan manak” menjadi keniscayaan bagi seorang perempuan yang terlahir
ke dunia. Perempuan tidak dituntut untuk melakukan banyak hal karena tabiatnya
ialah makhluk pelengkap laki-laki. Mendengar hal demikian, Bos Inung menuangkannya
dalam satu artikel berjudul “Sebagai Dosen Laki-laki PTKI, Saya Sangat
Tersinggung.” Beginilah cara marah yang elegan. Marahnya seorang akademisi yang
mengajukan banding atas apa yang disampaikan perempuan tersebut.
Ketidaksetujuannya itu beralaskan bahwa perempuan bukan hanya sebagai pemuas
dan pelengkap. Lantas, apa bedanya dengan seorang pelacur?. Ia membela setiap
perempuan yang ada di sekelingnya, mulai dari istri, anak, saudari, sampai pada
semua mahasiswinya. Dan, di artikel ini saya manaruh hati. Seakan saya mendadak
mengafirmasi semua pendapat-pendapatnya.
Lain
Gus Rijal dan Bos Inung, lain pula artikel yang ditulis oleh Professor Masdar
Hilmy. Meski sama-sama mengajukan gagasan dan opini, bedanya, Prof. Masdar
lebih terkesan ke ranah deradikalisasi dan moderasi beragama. Saya tidak tahu
apakah ini karena tuntutan dirinya sebagai seorang rektor PTKIN, sehingga dalam
setiap tulisan yang diterbitkan seakan mendukung tagline Kemenag yang
sedang digaungkan. Namun, terlepas dari tema apapun itu, menurut saya Prof.
Masdar tetap luar biasa. Dalam setiap pilihan diksi yang ia ajukan meski
terkesan “baru.” Selalu ada kata yang dalam bahasa Inggris tidak ditemukan
artinya dalam bahasa Indonesia, namun, lewat tangannya ada saja kata padanan
yang ia temukan. Seperti kata “avonturir” yang ia maksutkan sebagai oknum perpetualangan
dalam menjalankan roda perpolitikan.
Terakhir
yang tak kalah menarik ialah tulisan-tulisan Professor Abdul Kadir Riyadi.
Banyaknya tuisan Porfessor Filsafat Tasawuf ini dialihbahasakan dalam bahasa
Inggris. Sehingga, butuh waktu berkali lipat untuk sekedar memahami maksud dari
satu paragraf yang ia tulis. Apalagi terma tasawuf yang kadang dalam bahasa
Indonesianya tidak ada, bertambah berkali-kali lipat lagi saya harus meminta perpanjangan
waktu. Sedianya, saya tidak tertarik dengan gaya tulisan beliau yang terlalu
ilmiah ini. Bagi saya yang “newbie” banget dengan hal demikian, kalau tidak
dituntut untuk memahami spiritualitas, mungkin saya tidak akan melirik tulisan
ketua pusat bahasa ini. Tapi, lamban laun saya menikmati, kok. Ketika saya
tidak paham pada satu teks kata yang ia tulis, saya akan mencari padanannya di
artikel serupa berbahasa Indonesia.
....
Satu
hal yang saya amini sampai sekarang, bahwa tulisan-tulisan keren yang saya
lalap habis itu, awalnya ditulis oleh penulis amatiran. Sehingga, saat ini
mungkin tulisan saya belum sebagus mereka berempat. Namun saya yakin suatu saat
nanti ada masa di mana nama saya bisa sejajar dalam panggung yang sama dalam pertarungan
ilmiah.
Komentar
Posting Komentar