AGAKNYA SEMAKIN VIRTUAL, AGAMA SEMAKIN DANGKAL?
Di umurku yang genap dua puluh dua, rasa-rasanya kesepian kerap kali melanda. Tak ayal, jatah paket internet yang sudah kukirakan habis dalam waktu satu bulan, nampaknya hanya bertahan sekitar empat belas hari lebih beberapa jam. Karena apa? Apalagi yang dilakukan jomblo akut sepertiku? Berselancar di sosial media, lah, pastinya.
Pas bulan Ramadan kemaren, di tengah rame-ramenya pesantren menggunakan sosial
media sebagai sarana mengaji, semakin surut komentar tentang sanad keilmuan dan ngaji di mbah google. Dulu banyak yang mengecam
“Jangan ngaji di YouTube, jangan ngaji di mbah google, sanadnya gak jelas.” Nyatanya,
sekarang berbondong-bondong menggunakannya. Dinamis sekali hidup ini.
Beberapa kali juga aku
mengikuti pengajian online dari beberapa pesantren ternama, seperti pesantren
di mana aku dulu nyantri di Matholi’ul Anwar Lamongan. Kemudian Pesantren Langitan,
Pesantren Rembang, Pesantren Lirboyo, dan pesantren-pesantren di Jawa Timur lainnya.
Tujuannya apa? Selain menghilangkan kegabutan, sejenak aku rindu mendengarkan utawi
iki iku dari mbala–membaca dengan bahasa Jawa- kitabnya kiyai.
Dengan bangganya, akhirnya
aku mengakui bahwa aku ini memang santri sejati, yang masih menyempatkan diri untuk
mengaji. Hahahah. Namun, apa Cuma aku yang ketika ngaji online tak tahan
lama?. Kalau memang ada temannya, ya, Alhamdulillah, lah.
Lagi enak-enak ngaji, tiba-tiba
ada pesan masuk di Whatsapp dan Telegram, akhirnya cepat-cepat aku beralih membukanya,
padahal hape-ku bisa dipakai setengah-setengah. Dengan diusap oleh tiga jari ke
atas, layar hape bisa terbelah menjadi dua, yang atas untuk YouTube dan yang bawah untuk aplikasi yang lain.
Rayu mereka
yang datang tidak bisa dhindarkan. Meski hanya basa-basi cepat sekali aku ladeni.
Menurut asumsiku, ngaji
yang disiarkan di kanal YouTube pasti akan tersimpan setelahnya.
Adminnya tak sampai hati kalau ingin menghapusnya. Selain sudah direkam penuh, kepalang tanggung kalau tidak disimpan dan dipublikasikan, ya,
kan?. Jadi ada alasan bagiku untuk menunda, nanti-nanti, lah,
aku terusin ngajinya.
Bayangkan,
kalau pikiran dan kelakuan semacam ini tidak hanya aku
yang menjalani. Ada banyak aku-aku yang menyebar rata di sana-sana. Pastilah,
akun ngaji online yang disiapkan kang-kang senior pondok tak ada lagi gunanya.
Aku harap, sih, hanya aku yang berkelakuan seperti itu. Biar apapun yang telah disediakan
tak percuma pada akhirnya.
Setelah itu aku baru paham
apa yang dikatakan oleh Sayyid Alwi Al-Maliki mengenai sebuah keberkahan. Sang
Sayyid mengatakan kira-kira bahasa lepasnya seperti ini, “Segala jenis pengajaran
bisa dilakukan oleh para pengajar dengan banyak gaya dan metode, tapi jangan dilupakan
adanya keberkehan dalam setiap talaqqi–bertatap muka.”
Bagiku yang sedikit banyak
sudah mempunyai murid, dan mewakili banyak pengajar, jika eksistensi kita ingin
langgeng dan tak tergantikan oleh ruangguru komputer dan perangkatnya,
maka selayaknya secara masif kita kampanyekan teori propaganda keberkahan dalam
setiap pengajaran klasikal tatap muka. Hehehe.
Ngaji di Sosial media
juga tak lancar sepenuhnya, bagi yang rumahnya pelosok kayak rumahku ini, ia juga
harus diperhitungkan, jangan sampai salah pengertian. Kiyai bilangnya “habbatus
sauda’ dawa’un likulli da’ illal maut” yang artinya “Jinten hitam ialah obat
segala penyakit kecuali mati.” Kita salah melihat di layar screen hape yang
awalnya Ba’ menjadi Ya’. Jadilah “Hayyatus sauda’ dawa’un likulli da’ illal maut”
artinya “Ular hitam ialah obat segala obat, kecuali mati.” Hanya karena setitik
rusak susu pengertian sebelangah.
Intinya, bagi orang
sepertiku, yang sudah kemakan teori propaganda barokah, ditambah malas-malasan
di rumah, semakin virtual, agaknya agama-ku semakin dangkal. Bagaimana dengan
kalian? Semoga tidak sama dengan alfaqir.

Role model santri jomblo akut.
BalasHapusCocok jadi Kyai yg mewasilahi keberkahan, sebab sudah menjomblo fi sabilillah hehe
BalasHapusYeaaay mampir kemari akhirnya. ��
BalasHapus