Role Model,
Tiga hari ini
rasanya aku dibuat bosan dengan keadaan. Tiba-tiba ada pesan masuk di Whatsapp Group
yang isinya kek gini, “Pengumpulan tugas sebagaimana terakhir jadwal UAS dari
Pascasarjana nggeh, monggo dipersiapkan dengan semaksimal mungkin.” Bukan
apa-apa, males saja kalau semua dosen mintanya jurnal. Bukan malas
ngerjakannya, namun memaksa merangkai kata yang tak sejalan dengan pemikiranlah
yang membuatku geli dan mengajak ketawa.
.
Sebenarnya aku
tak sepenuh hati kuliah dengan jurusan yang berbeda dengan sebelumnya, karena apa?,
iya jelas karena dasar keilmuaanya berbeda. Di Pendidikan Agama Islam, aku
dituntut untuk memahami Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, -KI, KD- HOTS, MOTS,
dan teori pedagogi lainnya. Its okey kalau mata kuliahnya berhubungan
dengan psikologi. Meski ada embel-embelnya pendidikan, masih bisa lah aku
mengimbangi. Tak ada masalah.
.
Sedihnya, mata
kuliah psikologi pendidikan hanya muncul sekali dalam empat semester. Matakuliah-matakuliah
yang ditawarkan banyaknya tentang evaluasi pendidikan, pengembangan kurikulum,
teknologi pendidikan, dan mata kuliah terapan lainnya.
.
Bagi semuanya
saja yang belom melanjutkan pendidikan strata dua, aku sarankan mengambil yang
samaan dengan sebelumnya saja. Kalau ngerasa tak kuat Iman, jangan coba-coba. Iya
kalau dosennya enakan, kalau dosennya Profesor baru sebulan dikukuhkan, bisa
habis kita dibuatnya linglung, karena apa?, karena masih training dan terlalu berlagak
hebat yang sejalan dengan pangkat barunya itu.
.
Karena kebosananku
ini, beberapa hari aku jadi menghilang. Lebih tepatnya tiga hari yang sudah aku
singgung barusan. Blog-ku tak lagi kuisi, tugas-tugas tertumpuk tak kuurusi,
apalagi mempersiapkan materi mengajar, sudahlah nanti-nanti. Lebih seringnya
aku berselancar di instagram dengan membaca esai-esai yang dirilis oleh Mojok
Dot Co. Ada banyak hal yang kutemukan di sana.
.
Mojok Dot Co
memuat banyak informasi, mulai dari opini, cerita horror, dan tadi, banyak esai-esai.
Aku baru sadar kalau esai tak hanya digunakan sebagai ajang perlombaan dengan
segala peraturan yang ilmiah dan saintifik, ada juga esai lepas yang gaya
penulisannya sama seperti ngerasani tetangga kanan-kiri dan depan rumah.
.
Ada satu lagi,
di Mojok Dot Co penggunaan bahasa akuannya dengan kata “Saya,” bukan kata “Aku.”
Kek nya aku harus belajar beradaptasi juga, siapa tahu nanti tulisanku dilirik
oleh mereka dan dimuat di kanal yang tiap hari rilis itu.
.
Oke, aku akan
bercerita lagi. Eh, saya akan bercerita lagi.
.
Lima tahun
yang lalu, ketika saya pertama kali di Surabaya, tak ada satupun orang yang
saya kenal, kecuali mereka dua orang, yang rela menjemput di bawah plang besar
berwarna hijau di depan masjid. Saya lupa tulisannya apa, kalau tidak salah, “Uthlub
al-‘ilma walau bi al-Shin.” –Carilah ilmu sampai ke negeri Cina.
.
Ah, masa itu saya
masih tak tahu apa-apa, dua orang yang tadi juga hanya sebatas kakak kelas, pasti
akan sibuk setelah mengantar saya ke peristirahatan asrama. Saya akan sendiri
lagi mencari apa-apa setelahnya. Yasudahlah, bagus saja sudah ditunjukkan jalan,
saya akan lanjut berusaha apapun yang terjadi nantinya.
.
Tibalah masa
matrikulasi. Kalau dulu di Madrasah Aliyah saya mengenalnya dengan nama MOTA –Masa
Taaruf Madrasah. Acara ini berlangsung selama enam hari di GreenSa Inn Hotel. Katanya
dulu, hotel berdinding hijau ini juga milik kampus tercinta. Satu persatu
pemateri menyampaikan gagasan, macam-macam, mulai dari pengembangan diri sampai
teknis perkuliahan.
.
Saya yang
waktu itu masih baru, asik sekali mengikuti. Pemateri lihai dan teman-teman
kece. Ditambah semua panitia dari jajaran kakak kelas, yang mana dua orang yang
menjemput saya sebelumnya juga ikut di sana. Lengkap sekali kebahagiaan saya
waktu itu. Meski sedih meninggalkan rumah dengan segala pernak-perniknya, saya jadi
lupa karena rayu kasur hotel yang menurut saya lagi empuk-empuknya.
.
Ternyata waktu
seminggu cepat sekali berlalu, bangku-bangku yang sebelumnya berjajar rapi
dengan suguhan permen di atasnya, tak lagi sama dengan bangku dalam kelas. Gorden
berenda berwarna hijau kini berganti dengan gorden berwarna merah. Semua berubah,
tak lagi dimanja dengan coffe break dan harus cari makan siang
sendiri-sendiri.
.
Sebelum saya
dan teman-teman pulang ke asrama, kami diperkenalkan dengan mentor kami satu
persatu. Tujuan diadakannya mentorship ini untuk membantu kami seangkatan dalam
masalah apapun, tak terkhusus masalah perkuliahan. Mengingat kami yang
berjumlah empat puluh orang adalah santri pilihan dari berbagai penjuru daerah.
Sama seperti saya, banyak yang masih asing dengan kota terbesar nomor dua setelah
ibu kota Jakarta ini.
.
Satu mentor
untuk tiga atau empat orang. Dan dibagi berdasarkan asesmen sederhana dilihat
dari semasa matrikulasi kemarin. Aku dan Miftah –teman seangkatan dari Blitar-
mempunyai ketertarikan yang sama dalam dunia permusikan, alhasil, kami berdua
dipasangkan dengan kakak kelas yang equivalen dan seidentik dengan kami. Kalau dalam
istilah para ahli, kenapa bisa disandingkan dengan kakak kelas itu?, karena
mengikuti teori kausalitas. Adanya sebab, timbullah akibat.
.
Di awal-awal
kami kenal, tidak melulu kami membicarakan hobi. Lebih seringnya membahas
teknis perkuliahan. Ternyata, teori yang dijejalkan selama matrikulasi berbeda
jauh dengan kenyataan. Banyak sekali makalah yang harus saya kerjakan tak
berbanding lurus dengan pemahaman penyusunan yang saya dapatkan. Karena memang waktu
itu belum mempunyai laptop, juga belum pernah bersentuhan dengan Microsoft word.
.
Malam-malam saya
ditemani dengan sang mentor. Perlu saya kasih tahu bahwa mentor saya mengajari
dari awal, mulai dari cara penggunaan tombol control, sampai membuat daftar isi
otomatis. Gaya bicaranya yang kalem menambah ketenangan, nada suaranya yang
sedikit parau menambah kewibawaan. Semenjak malam itu, saya semakin percaya
diri dalam menyusun tugas-tugas. Karena saya yakin, tulisan bagus bukan karena
isinya saja, melainkan kerapihan yang menimbulkan ketertarikan pertama dalam setiap
penyajian.
.
Terimakasih Mas,
saya tak perlu menyebut namamu, doakan saja uangku banyak, biar bisa sowan ke
tempat pengabdianmu.
.
Yang kedua
sebenarnya bukan secara resmi disediakan menjadi mentor. Namun terlepas dari
itu, saya banyak belajar darinya, juga saya tak pernah berkata ingin berguru
kepadanya, dan ia secara resmi tak pernah menganggap saya sebagai muridnya. Setiap
kata, setiap postingan, setiap tulisan yang ia sajikan menjadi pembelajaran yang
membuat saya terus berkembang.
.
Lahirnya, “Katanya
Sendu” salah satunya karena inspirasi dari dia. Darinya aku belajar untuk sesekali
menjadi penyendiri. Tidak semua gemerlap menyediakan kebahagiaan. Adakalanya menyepi,
merangkai kata-kata yang kalut dibawa duka masa lalu. Menuliskan kegundahan juga
tidak serta merta dihukumi galau, dari pada banyak yang bahagia namun ditutupi
kedustaan.
.
Semua kata yang
ia tuliskan dalam snap WA, feed Instagram, dan kadang dikirim pribadi ke saya
adalah bentuk pembelajaran, bentuk semangat yang ia sendiri tak niat untuk
mengajariku. Namun aku menagkapnya lebih, karena mengenalnya sangatlah langkah.
.
Terimakasih Mas,
doakan saya bisa ke Jawa Barat lagi, akan saya singgahi istanamu. Biar saya
disuguhi senyum manis yang merekah dari kedua bibirmu.
.
.
Dari situ saya
sadar, bahwa perlu adanya role model yang dijadikan mentor. Meski mereka
tak menyadarinya, namun saya berterimakasih atasnya. Yang pertama menjadikan
saya cakap berolah data dan rasa dan yang kedua mengajari saya pandai berolah
kata dan beretorika.
.
Sebenarnya masih
ada lagi, buat besok lagi.
.
Menunggu dia,
di kamar kepanasan, belom mandi.
M. Yusuf

Anda mentor saya, tapi saya gak berguna seperti ini. Apakah teori kausalitas itu tidak mempan di saya? Awokawok
BalasHapus