Bagaimana aku bisa mengenali keberadaan tanpa ketiadaan?
Malam itu dinginnya menusuk tulang-tulang,
kudukku pun menjalar satu-persatu ikut menegang, menyergap ujung jari, mangalir
ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di
hatiku.
.
Membekukan semua perasaan.
Mengkristalkan semua kenyataan.
Dan, cerita lamaku memanggil kembali perlahan.
.
Senada dengan rinai hujan yang masih
membungkus pelataran. Tak hanya membasahi, bunyinya bersahutan terdengar kempreng
dari talang seng pembuangan. Kalau semisal talang itu bocor, bisa dipastikan
kamarku akan banjir, karena lewat tepat di atas ranjang tidurku.
.
Sekali lagi, malam itu memang dingin sekali,
bagi ukuran tubuhku yang kurus kering dan tak ada balutan lemak, itu sudah sangat
menyiksa. Alhasil, selimut loreng lapis dua menjadi teman beradu mesrah, aku
diilit dan dipilin oleh halus kainnya.
.
Sengaja kupalingkan suasana itu dengan mengirim pesan basa-basi pada mulanya.
.
“Mas,
aku sumpek, pengen pacaran.” Tanyaku mengawali pembicaraan. Dan tak berselang
lama, kulihat di bawah namanya ada tulisan “Mengetik.....”
.
Aku tunggu beberapa saat.
.
“Iya
sama, Cup.” Jawaban singkat yang kunanti tadi.
“Lah, kan peyan sudah ada, Mas?” tanyaku
mempertegas.
“Sudah ndak, Cup.”
“Duh, cantik loh, Mbak-nya.”
“Iya, masa depan siapa yang tahu Cup. Aku juga
bingung hubungan sama dia gimana.”
“Lah, kenapa udahan?, aku kepo, Mas.”
“Dia kan gagal ginjal sudah stadium
akhir. Dia yang ngelepas. Kondisinya gak memungkinkan.”
.
Sampai di sini jariku benar-benar kaku. Itu
bukan karena dinginnya hujan yang perlahan menjulur tadi. Aku kaget. Tak menyangka. Dadaku serasa sesak
dan mataku berembun tanpa disuruh. Kukira cerita semacam ini hanya kutemukan di
layar-layar kaca. Tak pernah kubayangkan sebelumnya akan ada terjadi di dunia
nyata.
.
“Gak tahu juga aku harus apa, Cup. Udah setahun
cuci darah, makin hari makin kurus, udah susah kalau pipis. Mau cari orang baru
juga gimana, aku gak tega meski dia nyuruh.” Lanjutnya menjelaskan.
“Kukira sampeyan gak ada masalah, Mas. Nampaknya
juga baik-baik saja sama Mbak-nya.”
“Hubungannya, iya. Kondisinya, tidak.”
“Berarti poto yang selama ini peyan pajang
di snap WA, poto dulu-dulu?”
“Iya, Cup.”
.
Ya Tuhan, dibalik sifatnya yang penyendiri ternyata
menyimpan misteri yang mungkin tak sanggup dibebankan kepadaku. Bagaimana bisa
aku mengeluh tak ada yang mendekat mencintaiku sedang rasa cintaku pada
seseorang tak sebesar kuku hitam di jari kelingking.
.
“Mas, aku meleleh.” sambil kusertakan emoji
mata berkaca-kaca.
“Air mataku sudah asat Cup.” Jawabnya
yang singkat seakan mengajariku ketegaran. “8 tahun kita bersama, sudah
mimpi ini, itu, banyak, dll. Tapi, bagamana lagi, kukira bakal membaik, tapi
ya, Allah yang bakal tahu kedepannya.”
.
Delapan tahun bukan masa sebentar dalam
menjalin hubungan. Aku masih kalah dua tahun. Itu saja sebab berpisahku tanpa
jelas bagaimana awal mulanya. Ada tamparan keras kepadaku. Bahwa kedepannya tak
boleh semena-mena. Ada hati yang harus dipatri.
.
.
Rasanya tak adil sekali. Aku yang sibuk
berkutat melupakan, namun belum paripurna memberi kasih sayang.
.
Bahkan, “Sebuah Usaha Melupakan” adalah buku
yang aku lumat lahap beberapa hari belakangan. Buku ini ditulis oleh Boy Candra. Lelaki
kelahiran Padang yang bulan lalu mendapatkan apresiasi dari Kementerian pemuda
dan Olahraga sebagai penulis belia yang aktif berkarya.
.
Buku-bukunya yang bertajuk pilu-syahdu membungkus
kenangan masa lalu itulah yang aku baca sampai larut malam. Mungkin bisa
dikatakan bahwa aku menyambut keberkahan malam seribu bulan dengan ditemani
cahaya redup hape-ku yang ter-setting perisai malam. Kadang juga aku
kenakan kacamata sebagai penghalang radiasi agar mataku tak begitu tegang. Iya,
aku sibuk membaca karya-karyanya sebagai pengobat hatiku yang mendadak menjadi
gundah.
.
Dari situ aku belajar bahwa aku tak bisa
mengenali keberadaan tanpa ketiadaan. Dan suatu saat nanti, "sendiri" tak akan
lagi menakutkan, karena aku memilih “tiada” di antara para-para yang ada.
.
Aku juga mendapatkan cerita mengenai keseriusan
cinta sehingga lupa bagaimana cara mencari kebahagiaan semata.
.
Iya, kadang aku merasa malu karena
tingkahku yang masih tak menentu, yang kelihatannya masih bereksistensi namun rasa-rasanya
sudah layak untuk dikremasi.
.
Terimakasih Mas, karenamu lagi-lagi aku
belajar untuk tidak bermain hati kalau tak sanggup mengikat janji. sengaja tidak aku ceritakan dramatis, karena kutahu, sampeyan tak secegeng itu.
.
M. Yusuf

Lopyu tu pak ustadz๐๐๐
BalasHapusCie belajar setia
BalasHapus