Jangan Peduli, Namun Pedulilah,


Semakin ke sini, kadang aku minder dengan tulisan-tulisanku. Secara berkala, aku melihat perkembangan viewer dalam blogger. Kalau dalam sekali posting ada dua puluh orang yang melihat, dengan senang hati akan aku lanjut untuk menulis artikel berikutnya. Namun jika tidak sampai, aku harus membaca satu artikel lain agar aku belajar bagaimana pola yang disukai pembaca. Sebenarnya itu aku niatkan sebagai hukuman kepada diriku sendiri. Lebih gregetnya, biar aku sedikit mengamalkan ilmu BK-ku perihal reward and punismant.
.
Semenjak pertama, aku sudah salah membuat blog ini. Wong perangkingan dunia tentang membaca saja, Indonesia di urutan agak bawah, hanya orang-orang gila yang menuntaskan pada pejalanan menjadi penulis. Kamu penulis?, bisa dibilang iya dengan beberapa tulisan kemarin. Layak jual? Lah, tak ada niatan sampai di situ. Jangankan menjadikannya sebuah buku, mendaftarkan google adsense saja nani-nanti dulu.
.
Intinya, nulis saja terus. Kata Pidi Baiq dalam seminarnya, kita disuruh berlatih menulis minimal seribu (1000) kata dalam sehari. Kata apa? Apa saja; bisa mengeluh, menggerutu, menyalahkan nasib, memuji nabi, sampai menggunjing tetangga-tetangga.
.
Tapi aku sarankan jangan sering-sering menggunjing tetangga, nanti jariah dosanya terus-menerus mengalir, apalagi banyak yang baca, makin banyak aib-aib yang tersebar nantinya. “Man sanna sunnatan sayyi’atan, falahu wizruha wa wizru man ‘amila biha.”
.
Kalau sudah konsisten sehari seribu kata, jangankan artikel asal-asalan, artikel bereferensi saja satu tema bisa dua menit selesai. Tapi itu kata Pidi Baiq, dan aku belum sampai pada tahap itu. Masih merangkak akunya ini, tapi merangkak  juga ada batasnya, pada saatnya nanti akan tiba masaku untuk berlari juga.
.
Dulu, sebelum aku pergi ke pesantren, aku sering mengikuti jamaah Al-Kidmah. Sampai-sampai aku menjadi pembaca manaqib Syeikh Abdul Qodir Al-Jilani ra. bagian pertama. Aku masih ingat kalau bukunya itu berjudul “Al-Lujnu al-Dani.” Berisi bacaan istighasah, doa-doa, dan tujuh bab biografi sang pemimpin wali itu. Aku tidak hafal semua biografinya, namun ketika ada yang membaca, aku bisa menyahut kalimat terakhir dari bacaannya.
.
Orang-orang yang tergabung dalam jamaah Al-Khidmah umumnya mengikuti tarikat Qadariyah wa Naqsabandiyah. Dalam tarekat ini, sang mursyid mengajarkan berzikir jahr dan sirr –keras dan lirih.
.
Semua yang kita lakukan harus diniatkan karena Allah. Sebisa mungkin apa yang kita kerjakan agar disembunyikan. Hanya Allah yang melihatnya. Hidup prihatin dan tidak mengharap kekayaan. Karena Nabi berdoa agar meninggal dalam keadaan fakir dan mengharap agar dikumpulkan dengan mereka kelak di surga. Dan aku sempat mengikuti ajaran ini, sehingga apapun yang aku kerjakan tidak boleh terus-terusan dipublikasikan.
.
Semua berubah ketika aku mengenal kitab Al-Hikam karangan imam Ibn Atho’illah Al-Sakandari. Aku mengenal kitab ini sudah lama namun mulai mengaji seiring dengan masuknya waktu kuliah. Bait-bait maqolah yang ditulis oleh sang imam mengandung esensi begitu dalam.
.
Aku semakin mantap ketika talaqqi –bertemu tatap- dengan Prof. Dr. Syeikh Yusri Rusydi dari Al-Azhar Cairo Mesir di masjid kampus “Ulul Albab” UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam pertemuan itu, beliau memberikan penjelasan singkat mengenai tarikat Syadziliah Yusriah dan memberikan sanad iajazah atas amalan keseharian yang sepatutnya dikerjakan. Dalam tarekat ini mengajarkan agar kita berusaha hidup kaya, dan menunjukkan segala kebaikan yang kita perbuat.
.
Logika berfikir dalam tarekat ini sederhana, “Yang maksiat dan dipublikasikan saja begitu banyaknya, kenapa yang taat harus dijaga rapat-rapat.” Kalau aku menerjemahkan dalam bahasa bebas, mungkin jatuhnya akan seperti ini, “Yang bermain TikTok saja sampai agama dilecehkan, kenapa yang taat tidak dijadikan sebagai peng-counter-an.” Biar sama-sama adil, amar ma’ruf nya lewat teladan, meski konsekuensinya bakal banyak yang bilang pencitraan.
.

.
Kadang itulah caraku supaya bangkit dari keterpurukan dan omongan orang. Satu lagi, yang mencintai kita tak perlu bukti, dan yang membenci kita tak perlu dalil. Biasa-biasa saja, agar semua berjalan apa adanya.
.
Kalau mau nulis di blog ya nulis saja, tak perlu ada tendensi lain-lain. Simpel. Begitu saja. Tapi juga harus instropeksi. Biar tak keras hati nantinya.
.
Tidak perlu juga menjelaskan keadaan kita, karena kesan pertama sudah terbangun oleh mereka. Stereotipe yang dibangun akan susah untuk ditembus. Dan jangan jadikan diri kita diperbudak oleh kedengkian sesaat.
.
Allahumma berkah selalu ya Allah....

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer