Jangan Khawatir, Bayangan Cermin Pasti Terbalik,
1
Hari ini sang
surya seperti malu-malu, padahal, sedari Shubuh aku menunggu. Pernah tahu
bagaimana sepasang pengantin berjalan beriringan di acara resepsi pernikahan?,
orang-orang Jawa memberikan pasemon –julukan- seperti macan kelaparan
–perlahan mengintai mangsa. Ya, terasa lama, namun masih terus dinanti. Aku menunggu
matahari menjulang tinggi karena aku teringat pepatah yang dinasihatkan oleh
Cangik kepada anaknya agar tidak tidur pagi-pagi.
.
Pernah tahu
siapakah gerangan Cangik itu?. Kalau sudah tahu, tak apalah diceritakan di
kolom komentar. Kalau belum tahu, mungkin lain kali saja aku ceritakan, untuk
saat ini fokus saja pada nasihatnya.
.
Dalam
pagelaran wayang kulit yang didalangi oleh Ki Anom Suroto, Cangik keluar ketika
terjadi prahara putri Subadra yang deiperebutkan oleh beberapa kesatria. Selain
sebagai abdi perempuan, ia –si Cangik- juga menjadi teman bicara dalam keseharian.
.
Perempuan mana
yang rela dijadikan sesembahan ketika ada kesatria yang kalah perang, perempuan
mana yang mau dijadikan pemuas nafsu bagi kesatria yang kalah taruh. Ia memiliki
kriteria, ia memiliki pilihan, yang selayaknya butuh untuk diperjuangkan.
.
“Lantas
apa yang Ndoro inginkan, kalau boleh ndalem tahu?” Tanya Cangik mengawali.
“Aku hanya mau
dipersunting olehnya, Arjunaku.”
“Apakah
Arjuna juga ikut tanding, Ndoro?.”
“Sayangnya
tidak, Mak Cangik.”
“Sudah
Ndoro, ora dadi bahoyo pangopo.” –Sudah Nona, tidak akan jadi masalah. Ucapnya mencoba menenangkan.
“Sudah
bagaimana, Mak Cangik?. Aku tahu, Mak Cangik lebih senior dalam masalah mengayu
bagyo. Ceritakan kepadaku, Mak. Ayolah!. Apa yang semestinya aku lakukan.”
“……” Cangik
hanya terdiam, memikirkan tindakan apa yang semestinya ia lakukan. Ia mendapat
titah sebagai tukang sisir, bukan penasehat pribadi anak-anak selir. Meski kadang
memberi solusi namun tak berupa hal sepelik ini. Biasanya hanya masalah pilihan
makan nasi atau lontong ketika sarapan pagi. Juga, pertanyaan dari putri
tentang enaknya diaduk apa tidak ketika memakan bubur. Ini masalah yang serius,
tidak hanya menyangkut cinta, lebih tepatnya menyangkut masa depan Subadra dan
penerus tahta.
.
2
Cangik
meneruskan pekerjaannya sebagai pengelola rumah tangga kerajaan. Sambil terus
memikirkan apa gerangan yang hendak ia katakan kepada Subadra. Mengingat Arjuna
sudah mempunya istri sebanyak tiga, dan ia, si Subadra akan menjadi istri yang
ke empat, itupun kalau ia bisa meluluhkan hati Arjuna.
.
Gadis mana
yang tak terpikat oleh ketampanan Arjuna. Hanya dengan berdiri saja membuat
hati bedegup rapat. Apalagi melihatnya berlaga di padang Kurukshetra, lengkap
dengan panah Pasopati terpegang di kedua tangannya, semakin menjadikan detup
jantung para wanita berlombah dengan nafas yang terengah-engah.
.
Meski Arjuna sudah
beranak dan beristri, nyatanya Dewi Subadra bisa gandrung tak karuan dibuatnya.
Sampai-sampai ia rela menjadi yang kesekian, asal bisa bersatu dan bersama. Subadra
tahu kalau Arjuna tak mungkin menjadikan ia bahan sesembahan ketika kalah
perang. Subadra paham kalau Arjuna tak akan menjadikan ia bahan taruhan ketika
kalah tanding.
.
Cangik tahu
kalau Subadra mencintai lelaki yang beristri. Cangik hanya bisa diam tanpa
memberi saran. Itu adalah cara Cangik mempertahankan dirinya agar tidak terbawa
lebih jauh dalam masalah intim yang dihadapi sang putri. Namun Subadra tetap memaksa.
.
“Mak
Cangik sudah tak mau menjadi temanku lagi?”
“Mau,
Ndoro.”
“Kalau
begitu, katakan, Mak. Apa yang mesti kuperbuat”
“Injih,
Ndoro. Ndoro harus berjanji, kali ini Ndoro harus menuruti apa kata emak
sebagai orang tua, yang Ndoro sendiri tahu ada kualat dan malati.” Kata Cangik meyakinkan.
“Baik,
Mak. Demi Arjunaku, apapun akan kulakukan.”
.
Terjadilah
kesepakatan antara keduanya, dan Subadra mulai menjalankan apa yang diperintah oleh
kawan bicaranya tadi.
3
“Ini
sudah hari ketiga, dan bulan sudah terlihat bulat seutuhnya, Mak. Kapan matra
itu bisa aku dengungkan?.” Tanya
Subadra kepada Cangik.
“Sebentar
lagi, menunggu ayam dari selatan berkokok. Ndoro.” Timpal Cangik menenangkan.
“Baik,
Mak.”
.
Sebelumnya, Subadra
menjalankan ritual puasa tiga hari berturut-turut atas instruksi yang diberikan
oleh Cangik kepadanya. Dalam puasanya tersebut, tiap malam ia harus membaca
mantra kasepuhan, agar apa yang ia katakan nantinya menjadi daya pikat bagi
laki-laki. Mantar itu diajarkan juga oleh Cangik. Mengingat, Subadra yang terus
saja mendesak.
.
“Ndoro,
sudah waktunya Ndoro keluar kamar, dan berdiri dibawah terang rembulan di
tengah pelataran istana ini.”
“Baik,
Mak.”
“Setelah
itu, Ndoro harus menghentakkan kaki ke bumi sebanyak tiga kali, lanjut diam di
tempat, jangan melipir kemana-mana.”
“Baik,
Mak.”
“Ikuti
kataku; ‘Ati-ati damar jati, cumentel pulunging ati, byar padhang semrawang
kathon suwargaku. Singo ndulu saktemene jabang bayine Arjuna ora katut marang
aku, sanak biyung uga katut marang aku, tekan welas, tekan asih, asih, asih,
asih, marang aku.’”
.
Dengan lancar Subadra
menirukan. Selesailah sudah ritual yang dijalankan. Sebagai penutup Cangik
menyuruhnya untuk mandi keramas, sebgai pertanda munculnya jiwa baru setelah
banyak beradu. Beradu dengan rasa dan kenyataan.
4
Di akhir
cerita, ia terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang putri anggun,
lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya. Ia merupakan sosok ideal priyayi
putri Jawa. Namun garang dalam mempertahankan kemauan. Hanya dengan cara
mendekatkan diri pada Sang Hyang Tunggal, ia mendapatkan lelaki yang ia
idamkan. Cukup perbaiki diri, Tuhan tahu yang ada dalam hati.
.
Semangat bagi
para pejuang, Subadra juga bisa menjadi sumber referensi. Bagi hati yang masih
sepi, alangkah baiknya bersama-sama mulai memilih, tetapkan, dan adukan pada
Tuhan, minta jalan supaya dimudahkan, mendampinginya, mendekatinya, merasakan
kebahagiaan dengan ia yang kita cinta.
.
Jangan pernah
minder dengan keadaan kita saat ini, memang jodoh cerminan diri. Kita sering
lupa bahwa cermin berbalik 180 derajat, dalam bercermin kita menghadap utara,
sudah pasti bayangannya menghadap selatan. Bisajadi kita masih belum sempurna,
kalau Tuhan menyandingkan dengan yang paket mantap, kita bisa apa?.
.
5
Seperti ngehalu,
aku saja masih sering iri dalam perbaikan diri. Masih memandang sekitar dengan
segala kelebihannya. Masih sering merasa bahwa Tuhan belum sepenuhnya adil. Mengapa masih
ada deskriminasi. Aku yang menginginkan dia, tak lantas dengan mudah jalanku
menyandingnya. Kenapa bisa patah berkali-kali dengan orang yang sama. Kadang tak
bersyukur dan sering menghayalkan kata “jika jadi dirinya.” Atau minimal setampan
anak tetangga.
.
Mungkin Tuhan
mau mengingatkanku, “Kalau kamu jadi orang tampan, nanti kamu menyakiti banyak
wanita. Suara, ada. Pintar, agaknya juga. Cakap omong, rupanya juga iya.”
.
Ya, begini
saja aku sudah mensyukurinya,

Komentar
Posting Komentar