Impian yang Tak Diimpikan,
“Iya, Mas. Saya
usahakan.” Kataku sebelum aku tutup telepon darinya kemarin malam.
.
Aku berjanji
akan mencarikan soal Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan TPA untuk keperluan tes
masuk Perguruan Tinggi. Aku ingat pernah menyimpannya di laptop dan google
drive, namun ternyata tidak kutemukan. Lanjut buka email pribadi, sampai
beberapa email instansi, dan nyatanya nihil, tak ada satupun yang kucari. Kemudian
aku berselancar di Google Crome hampir dua jam, mencari pola soal-soal tes
masuk Al-Azhar Mesir lewat jalur Kementerian Agama, sama juga, tak ada kunci
jawabannya. Akhirnya, aku buka almari, kucari beberapa buku tes TOAFL, dan
kuputuskan mengetik sendiri.
.
Kupilih satu
dari tiga buku. Buku itu berisi banyak tadribat. Aku pernah membahas
buku itu sewaktu intensif Bahasa Arab di semester awal dulu. Guru intensifku
lulusan Sudan dengan gelar Diploma. Kemudian lanjut master di bidang bahasa
Arab dengan gelar Magister Pendidikan. Belajar kita seperti biasa, ada sesi
diterangkan dan ada sesi gantian menirukan.
.
.
Tak semua
mahasiswa fasih dalam menirukan, ada yang gelagapan pastinya, dan itu yang
membuatku bosan. Kadang aku melipir keluar kelas izin ke kamar mandi, ala-ala
membuang kepenatan. Dan its okey dosenku mengizinkan. Kadang juga coret-coret
kertas sebagai bentuk katarsis. Namun hanya kadang, seringnya aku rajin.
.
Aku juga
sering termotivasi dengan cerita dosenku yang menggugah. Isi ceritanya
bagaimana ia kuliah di dataran Afrika. Ia bisa merasakan puasa 18 jam lebih, di
mana waktu buka berdekatan dengan sahur. Ia juga bisa merasakan berdampingan hidup
dengan orang-orang berkulit hitam.
.
Sama seperti
gulungan kertas yang aku mengisinya ketika matrikulasi dulu. Gulungan kertas
yang berisi cita-cita, harapan, dan keinginan selama empat tahun masa kuliah. Di
buku tes TOAFL itu juga terdapat dua kata pendek, “Eropa, Tuhan.!!!.” entah
itu masuk cita-cita atau harapan, yang jelas tulisan itu nyata, bukan tulisan
baru buat. Bekas dari tulisannya tak bisa dibohongi, tembus dan melebar seperti
terkena tetesan air.
Kalau aku tahu
efeknya akan sebesar ini, kenapa dulu hanya dua kata. Harusnya buku itu aku
penuhi dengan keinginanku. Meski aku tak mengamini di hari-hari berikutnya. Setidaknya
ada harap yang terselip di sela-sela kepenatan kuliah. Setidaknya ada sinyal
keinginan di tengah kecemasan masa selanjutnya.
.
Aku yakin, ini
cara klasik. Yang kalau aku bercerita tak akan ada yang memperdulikannya. Selayaknya
kita dicipta sebagai manusia biasa, berbeda jalan pemenuhan keinginannya. Namun,
percayalah semua akan indah pada waktunya jika Tuhan terus kita bawa di
kehidupan-kehidupan yang penuh dengan tawa.
.
Terimakasih, Ustadz.

Komentar
Posting Komentar