Cerita Hujan pada Si Penantang,


Malam ini hujan turun agak rapat. Rintiknya terdengar sayup senada dengan bunyi orang-orang mengaji dari masjid kampung sebelah. Kebetulan masjid kampungku sudah selesai sejak jam sebelas tadi. Orang-orang sini menyebut hujan yang turun dengan intensitas demikian ini dengan sebutan hujan “ngericeh.” Kalau keluar jalan kaki dan tak membawa payung, baju menjadi basah, kalau bawa payung-pun seperti makin susah. Iya, hujan seperti inilah yang diharapkan setiap pengantin baru. Kalau bisa, malam juga diminta agar pelan-pelan mengikuti setiap titik-titik yang jatuh ke bawah. Malam menjadi panjang dan ia menjadi senang.
.
Hujan ini, mengingatkanku pada tiap kali datang malam Minggu. Aku mengucapkan selamat hari raya bagi mereka yang menjalankan rutinitasnya. Namun aku juga berhak berdoa, semoga hujan turun deras, agar keberkahan menyelimuti bumi.
.
Kata orang-orang, hujan tak hanya membuat genangan, namun juga mengundang kenangan. Apalagi hujannya datang pagi-pagi. Dengan ditemani seduhan kopi yang pekat, hangat, dan tenang, menjadikan dua orang kesepian untuk saling mendoakan. Tak apalah kalau di waktu sepagi ini bisa mengenang senyumnya, sejenak aku tahu bahwa lengkungan sepersekian senti itu bisa meluruskan banyak hal setelahnya.
.
Kata orang-orang juga, berdoalah sebanyak-banyaknya ketika hujan turun. Turunnya menjadi perantara adanya istijabah. Kali ini aku akan berdoa untuk kebaikanmu, meski aku tak berani berdoa untuk kebaikan kita. Siapa aku yang telah lancang menautkan hatiku karena tercengang binar kedua matanya. Meski aku tahu bahwa aku adalah apa yang aku kerjakan dengan berulang-ulang. Oleh sebab itu, mendapatkanmu tak butuh keunggulan, hanya butuh kebiasaan. Nyatanya, cerminku lagi-lagi begitu lebar. “Siapakah diriku yang medekat padamu tak boleh jarang-jarang?.” Aku memilih untuk menunggumu dengan sabar demi hanya sebatas kabar. Entah, kabar itu nantinya berisi undangan pernikahanmu dengan lelaki dari desa seberang.
.
.
Kebaikan dibalas kebaikan, keburukan juga dibalas kebaikan. Katanya begitu seharusnya. jika aku menyukai bunga, maka aku akan memetiknya. Jika aku menyintai bunga, maka aku akan merawatnya. Itulah perbedaan suka dan cinta. Dan aku menyintaimu tak hanya sekedar menyukaimu. Aku tak pernah memandang adanya keburukan yang kau suguhkan. Bagiku, tak ada lagi keburukan yang nampak di hadapanku, karena cinta sama dengan kamu, dan kamu sama dengan cinta. Namun cintaku berbeda, aku tak berani mendekat, cukup kujaga rapat-rapat. Meski nantinya aku tahu, jalan yang terbaik adalah ngilang, bukan ngulang.
.
Rasanya, setiap hujan menjadi hari di mana aku tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Semoga tidak akan pernah keluar dari kedua bibirku, “Sungguh, menyintaimu bisa setragis itu.”


Komentar

Postingan Populer