Bukan Pilihan,
Dulu sekali,
menurut cerita tetangga-tetangga, sewaktu aku masih umur dua hari, si emak
membuangku di jalan depan rumah. Aku dimasukkan ke dalam tempat nasi anyaman
bambu dan dipayungi dengan kukusan. Orang-orang desa menyebut tempat nasi itu
dengan sebutan boran. Sedang kukusan adalah alat yang digunakan untuk
menyetak tumpeng berbentuk kerucut. Kalau ada yang tahu kuliner khas Lamongan bernama
nasi boranan, iya, karena diambil dari nama tempat nasinya itu.
.
“Weton
kelahiranmu sama dengan embah, untuk itulah kamu dibuang.” Lanjut tetanggaku
menceritakan.
.
Orang Jawa
meyakini ketika dalam satu keluarga ada yang mempunyai hari kelahiran yang sama,
maka terjadilah ketidakharmonisan antar pemiliknya. Nampaknya, emakku khawatir
kalau nantinya aku akan berani membantah setiap apa yang dikatakan mertuanya. Sehingga,
anak yang lahirnya belakangan harus rela untuk dibuang.
.
Siang itu di
mana sang raja hari menampakkan kekuasaannya, aku diletakkan sendirian tak
berteman, dibiarkan bebarapa saat sampai ada yang menemukan. Si emak
mengawasiku dari dalam rumah, mengintai siapakah gerangan yang akan cepat-cepat
mengambilku dari tempatnya. Jika nanti sudah ada yang menemukan, bergegaslah ia
keluar, menebusnya, dengan beberapa lembar uang puluhan ribu. Dan aku bisa
kembali dibuainya.
.
Meski sudah dibeli,
namun tak lantas emak-bapak memilikiku seutuhnya. Kalau semisal yang menemukan
laki-laki, selain kepada bapak kandungku, aku harus berbagi sebutan bapak pada
si dia yang menemukan tadi. Kalau semisal yang menemukanku perempuan, maka emakku
seakan-akan ada dua, ialah emak kandungku dan si dia yang mengambilku. Dan nyatanya,
yang menemukanku perempuan, sehingga sampai sekarang aku menganggapnya sebagai
emak bayanganku.
.
Entahlah, apakah
ini tradisi atau hanya sekedar aturan dari mulut ke mulut yang harus dilakukan
tanpa pernah disertai adanya bantahan.
.
Sebagai balas
jasa, emakku berjanji kepada dia, perempuan yang mengambilku, atau emak
keduaku, jika nanti aku dilamar orang, maka ia akan dikasih oleh si emak seserahan
berupa makanan aneka ragam sebanyak boran di mana tempat aku dibuang
dulu. Lamongan memang terkenal perempuan yang mempersuting laki-laki. Dan jangan
salah, aku dulu digadang-gadang ingin dijodohkan dengan dengan gadis desa
seberang, yang mana desa itu terkenal kalau melemar seseorang, makanan yang dibawa
tidak kuat dipikul oleh empat orang.
.
Seiring berjalannya
waktu, si emak membebaskanku untuk memilih siapa saja daraku nanti. Asalkan aku
suka, ia setujuh saja. Aku pernah menanyakan seperti apa kriteria menantu yang
ia idamkan, ia menjawab dengan enteng agar aku tidak memilih wanita yang
terlalu kaya.
.
“Apa?.” Kuulang sekali lagi pertanyaanku pada emak. “Kenapa
bisa demikian?.”
.
Ternyata sesederhana
itu pemikiran orang desa, konsep se kufuh ia gambarkan dengan kesamaan
harga diri. Kalau memang adanya harta mengakibatkan adanya strata, emakku lebih
memilih untuk mengambil menantu yang tak berdinasti, agar nantinya ia tak susah
mengimbangi. Ia tak rela melihatku, anaknya ini, ongkang-ongkang kaki menikmati
harta mertuanya.
.
Meski aku
memilih hidup berdua agar tak mengikuti norma yang dipegang antar kedua
keluarga, ia tetap khawatir, jika satu waktu emakku mengunjungi cucunya dengan
membawakan pisang batu, di lain waktu mertuaku mengunjungi cucunya dengan membawakan
pisang raja, aku yakin, pikiran polos anak-anakku akan memilih seperti yang
sudah kukira.
.
Selain itu,
emakku percaya, wanita dari kalangan berada tak akan bisa mengimbangi
kehidupanku selanjutnya. Kalau aku berkata dengan apa adanya, ia tak akan kuat
mengimbangi keadaanku yang serba pas-pasan. Jangankan skincare, bedak
siang malam saja aku tak paham mereknya apa.
.
Mungkin emakku
terlalu sayang padaku, hingga anaknya tak dibiarkan hidup dalam banyak
tanggungan. Sebagai laki-laki, aku sudah tahu kalau itu sudah menjadi
tanggungjawabku. Sudah kujelaskan itu semua kepadanya. Dan ia, emakku itu, mengukur
semua dengan kehidupannya, yang tak mendapatkan apapun perihal kewanitaan dari
bapakku, jangankan eyeshadow, bedak viva kantongan saja memakainya tak
pakai sponge busa. Hanya dituang dari kantong plastik ke salah satu
tangan, diratakan, dan tak pakai menengok kaca.
.
Beberapa kali
aku mendengar cerita dan nasihat agar setelah menikah hidup berdua di
perantauan, kalau bisa ngontrak sekalian, biar hidup ada seninya, tak
datar-datar saja. Berdua menjalani kehidupan dengan prihatin agar peka satu
sama lain. Kalau tidak salah, aku mendengar ini dari bapak Ridlwan Kamil. Kelihatannya
menyenangkan memang, tapi sekali lagi berkaca kepada emakku, cukuplah sudah. Tak
mau kuulang beberapa kali. Bukan berarti bapakku tak peduli, namun sebegitulah
kekuatannya.
.
Kalau ditarik
benang merahnya, sebenarnya emakku hanya ingin menantu yang menyayangi anak
bungsunya ini. Entah kaya atau seadanya. Namun. Bahasanya saja yang agaknya
kurang tepat. Sama halnya ketika ia menasihatiku ketika naik motor untuk pelan-pelan, sebenarnya itu isyarat buatku agar hati-hati. Coba bayangkan,
naik motor pelan-pelan, tidak akan melaju kedepan, malah tumbang ke samping.
.
.
Semisal semesta
memberi yang kaya juga sayang padaku? Apa ini bukan paket komplit?. Aku menolak?
Justru berterimakasih. Yang jelas, siapa saja entah kaya atau berkucukupan, asal
keduanya menerima, semua akan indah pada waktunya.
.
Sepertinya,
aku ngehalu begitu jauh, sudahlah sampai di sini saja. Semoga segera bertemu.
.
Dirumah,
dimakan nyamuk.
M. Yusuf.

Komentar
Posting Komentar