TAK INGIN TUMBUH DEWASA;
Jadi senyum sendiri mengingat kecil dulu ingin cepat menjadi besar. Iri
melihat orang dewasa yang bisa berbuat apa saja yang mereka suka. Bebas mengatur
jam tidur, jajan tanpa ada yang melarang, dan berkawan tanpa ada kekangan.
Sayangnya kepala polos kita dulu kurang mampu menangkap beban yang ada di baliknya. Sampai waktunya tiba kita disapa dengan realita. Begitu membingungkan; begitu menyedihkan.
Kalau disuruh memilih profesi, ingin rasanya menjadi anak kecil lagi; yang
belum mengenal kenyataan, belum dibebani tanggungjawab, bebas tertawa hanya
karena hal sederhana, dan bebas berlari sekuat energi. Semudah itu merasakan
bahagia.
Namun, kita hidup dalam kenyataan, bukan angan. Mau tidak mau, jadi
dewasa ialah niscaya. Sulit? Pasti. Berat? Sangat. Setiap masalah dihadapi. Setiap
pilihan dipertanggungjawabkan. Semakin kelihatan menguras pikiran, menambah
resiko, dan dikepung dengan pikiran-pikiran mengerikan.
Akan tetapi, dewasa membuat kita banyak belajar, makin paham situasi,
makin kuat, makin sabar, makin bijaksana, dan makin sadar bahwa kita hanya
butuh Allah ta’ala..
Adanya kebahagiaan di waktu kecil dulu, karena adanya orang dewasa di
sekeliling kita. Dewasa jadi kepastian, mungkin agar kita bertukar peran. Yang dulu
bahagianya diberi, sekarang bahagia karena memberi.
Komentar
Posting Komentar