SAYANGNYA, AKU BUKAN FILSUF.
Setelah kurasa
sudah selesai dengan tugas-tugas kuliah, rasanya ingin sekali meluangkan waktu
menuliskan cerita-cerita di kanal pribadiku ini. Kemarin-kemarin aku
diberondong antrean tak karuan. Menggunung. Dan seakan teriak ingin diselesaikan
dalam satu waktu. Tapi apalah dayaku yang hanya manusia biasa. Tak bisa, dong,
seperti Narayana yang tergambar memiliki empat tangan. Satu memegang cakra,
satu lagi memegang Shankya –terompet kerang, kemudian memegang bunga
Lotus, dan terakhir memegang Gada Komodaki. Kalau rutin nengok serial
Mahabarata, ya, pasti tahu. Dewa Wisnu itu, loh, lebih tepatnya. Juga, nantinya termasuk
awatara –jelmaan/inkarnasi- menjadi Krisna sang supir Arjuna ketika tanding
di Kuru Setra.
Ngomong-ngomong
tentang Krisna, kenapa ia disegani seperti halnya Semar Badrayana?.
Mungkin, keduanya
membumi meski sebenarnya berasal dari golongan para Dewa. Semar yang notabene anak
kedua dari Bathara Ismaya, sedang Krisna hasil inkarnasi dari dewa Wisnu rela
turun ke bumi dalam rangka memayu hayuning bawhana, atau yang sering
digaungkan oleh golongan “Sunda Empire” sebagai membangun tatanan baru. Atau juga
dalam rangka menciptakan baldatun thayyibatun warabbun ghofur –gemah ripah
loh jinawe agawe santoso.
Keduanya menjadi
penasihat para kesatria, untuk itu, mereka harus larut dalam suasana yang
dinasehati, akhirnya apa yang dikatakan bisa sampai di hati. Harusnya para Dewa
memerintah dari nirwana dan hanya dengan jurus sabda pandhita ratu-nya. Mengatur bumi
lewat kayangan dengan mengkondisikan dari atas saja. Alam mereka presepsikan
seperti kacang hijau dalam satu nampan, kalau ada yang bermasalah, tinggal
mereka singkirkan.
Namun tidak bagi Semar dan Krisna, mereka bukan manusia, namun mencoba menjadi manusia. Bukan tugas mereka mengatur jagad dengan turun ke bumi, namun rela turun untuk
mengajari.
Kalau dicermati
secara mendalam, analogi ini sepertinya cocok, "jika seorang pelatih sepak bola
bisa mengatur strategi tanpa harus ikut bermain di pertandingan, lantas kenapa
jomblo tak bisa memberi solusi tentang sebuah hubungan pada orang yang sudah
punya pasangan?" Dari sini, Semar dan Krisna bukan golongan manusia, namun ia
bisa memberi solusi manusia.
Semuanya, intinya satu, mencoba untuk memahami. Jomblo bukan tak laku, mereka terlalu paham, dan tak ada waktu untuk pacaran, karena mereka ingin fokus menjadi filsuf di masa yang akan datang.
M. Yusuf.

Komentar
Posting Komentar