MUNGKIN AKU PEJUANG RESTU YANG MALU-MALU,
1
Pagi masih terlelap dan malam terus terjaga. Kek nya
siklus hidup seperti itu sudah menjadi hajat tahunan di bulan Ramadan. Walhasil,
malamku hanya dirayu oleh terangnya layar ponsel. Membarter paket internetku
dengan banyak hal yang disuguhkan di sana. Kerdip bintang tak lagi kudapati, aku
tidak kemana-kemana, hanya dibuai oleh ketenangan suasana rumah.
Hariku masih sama, tak berkegiatan.
Kemarin-kemarin, Di televisi, instagram, facebook, youtube, twitter, dan semua sosial media masih marak memberitakan
sang suwargi Didi Kempot. Setelah pemberitaan megenai upacara
pemakamannya usai, kini giliran banyak media yang mengambil sisi-sisi lainnya.
Banyak bermunculan siaran mengenai bagaimana awal mula beliau berkarir, asmara
sebelum meninggal, bahkan agama yang beliau anut juga dikontroversikan.
Semua awak media mengambil bagian, semua tokoh mengambil
posisi. Dari yang mengucapkan bela sungkawa, sampai yang mengenang bagaimana
perjumpaan mereka. Tak terkecuali bapak Gubernur provinsi Jawa Tengah.
Salah satu yang menjadi perhatianku ialah ketika Pak
Ganjar –sebutan akrab untuk sang gubernur, mengajak Dorry Harsa –pengendang dalam banyak
show sang raja galau- live IG bersama. Dalam siaran langsung itu, Pak
Ganjar ngobrol santai perihal pribadi si Dorry sebagai teman akrab om Didi
Kempot.
Yang menarik perhatianku bukan karena topik yang mereka
bicarakan, namun fokus pada gaya bicara
malu-malu atas jawaban dari pertanyaan Pak Ganjar secara beruntun. Cowok berambut
cepak itu ternyata berdomisili di Solo. Tak ayal, bahasa Jawa-nya halus sekali,
sehalus rayuannya pada Mbak Nella Kharisma.
Sebelumnya aku tak tahu siapa gerangan si Dorry Harsa
itu. Bahkan lagu yang viral menjadi plesetan di snap WA, kukira bukan dia yang
menyanyikannya. Lagu yang berjudul “Ninggali Tatu” dan hanya diambil pada
bagian refference-nya saja, pun menjadi pengiring oppa-oppa Korea yang terjatuh
saat manggung di salah satu konser mereka.
“Kowe tak sayang-sayang, tegane gawe wirang,”
lirik ini dengan iringan kendang timpul senada dengan gaya terjatuhnya. Kowe
tak sayang-sayang, jreng, tegane gawe wirang, dum plak dum plak, jreng. Kira-kira
seperti itulah.
Kepalang tanggung aku mengetahui si Dorry hanya sepotong.
Aku telusuri segala hal tentang dia. Eh, malah nemu beberapa video siaran
bareng dengan Nella Kharisma. Dari situ tadi, aku tahu rayuannya yang halus
pada penyanyi cantik asli Kediri itu.
Astaga, kenapa aku jadi nge-review dia. Kenapa aku
jadi membahas duda beranak kembar ini. Tapi tak apa, setidaknya aku belajar
bahwa tidak ada yang bisa dibuat jaminan di dunia ini. Paras yang tampan juga
bukan jaminan akan langgengnya pernikahan. Apalagi yang tidak tampan? Hahahaha.
Kebanyakan orang berkata bahwa perceraian adalah awal
dari sebuah kehancuran. Bahtera yang selama ini diarungi nampaknya kalah dengan
serbuan ombak yang datang bergelombang; karang yang tadinya tenang terpaksa
mengambil bagian meluluhlantahkan. Prahara, huru-hara, dan segala kejelekan
nampaknya tergambar nyata. Bahwa jalan terbaikku adalah berpisah denganmu.
Perceraian tidak serta merta mengakibatkan kehancuran,
ada yang malah menganggapnya sebagai keberkahan. Aku pernah membaca sebuah
jurnal yang dipublikasikan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahwa dalam
berumahtangga ada banyak yang memilih untuk berpisah sebagai jalan terbaiknya.
Karena apa? Karena banyak motif, salah satu karenanya
adalah sudah tak lagi sevisi dalam menciptakan cnta kasih. Lantas apakah begitu
juga yang dialami Dorry Hasra? Mungkin iya. Bisa menjamin? Tidak bisa, karena
belum bertemu intens dengannya. Semoga di lain waktu bisa bertemu. Aku akan bertanya
bagaimana caranya berjoged ria di waktu putus cinta. Kalau ia tak mau, iya
minimal nyanyi bersama, lah. Hahaha.
2
Pernahkah terbayang bagaimana kesepian bisa datang?
Karena ada cinta yang terpatri begitu dalam sebelumnya. Psikologi mengatakan,
orang-orang yang terjerat dalam lonely, ialah mereka yang mendapatkan kasih sayang
secara paripurna sebelumnya.
Mencintai sama halnya dengan menebar benih. Meski tak
terbalaskan, ia tak akan musnah. Akan ada masa dimana yang ditabur tumbuh
memberikan kehidupan baru. Dedaunan-dedaunan itu memberikan tambahan kehidupan.
Akan ada masanya dimana engkau menikmati perhatianku,
sedang aku mati rasa diperbudak oleh lesung pipimu. Apakah aku menyalahkan
lesungmu itu? Sehingga aku ingin engkau memberikannya padaku?.
Nampaknya bukan seperti itu, aku cukup mengagumimu dengan
jauh, kalau nanti ada waktu kuharap adanya temu. Kalau tidak ada, aku tak akan
menyalahkan waktu, semoga kau bahagia dengan selain aku.
Dulu, emakku berpesan kepadaku agar aku menjadi kesatria
yang tulus. Namun, setelah kejadian berkali-kali dengan akhir cerita yang sama,
aku mengurungkan niat untuk menjadi seperti apa yang emakku mau. Karena terlepas
menang atau kalah, kesatria tetap memerlukan alasan untuk berjuang; dan
alasanku adalah “KAMU.”
Salam hangat dariku,
Pejuang restu yang tak malu-malu, dicuekin berkali-kali
namun terus maju.
Gugur karena kesandung kembar-mayang mantan. Hahahha.
M. Yusuf,

Komentar
Posting Komentar