INSECURE,
Akhir-akhir ini, bahkan nyaris tanpa belang, hari-hariku banyak diisi oleh tembang-tembang dan suluk-suluk pedalangan, baik ki Anom Suroto, Ki Seno Nugroho, sampai almarhum Ki Hadi Sugito. Bukan tanpa sebab, selain ingin memperdalam pengetahuanku mengenai sosok Semar Badrayana, juga, aku ingin sedikit mengobati rasa penyesalanku yang tak mengambil jurusan Sastra Daerah sewaktu kuliah dulu. Yasudahlah, mungkin yang sekarang jauh lebih bermanfaat, toh, ketika aku tidak mendapatkan gelar S.Sn., masih bisa, lah, sedikit banyak aku memandu acara-acara resmi dengan menggunakan bahasa Jawa.
Ada satu suluk yang membuat diriku merasa ikut di
dalamnya. Aku sengaja membawa nuansa suluk itu ke dalam lamunanku. Andaikan aku
berada di situ, tentunya aku merasa bahwa seisi dunia tidaklah berpihak
denganku. Bagaimana diriku yang hanya sebatas rontokan dari rontokan sisa biskuit
Khong Guan, berani menaruh rasa pada gadis yang setiap hari menggunakan
mahkota.
Mungkin ini berlebihan, namun bagi yang paham, selain
faktor trauma, kemudian ada masalah dengan penampilan, percaya diri yang
rendah, body dysmorphic disorder, ternyata faktor ekonomi, lingkungan, dan
hubungan sosial juga bisa mengakibatkan rasa insecure.
Kalau aku boleh mengatakan, “untuk orang-orang
tertentu saja, taruhlah rasa padanya.” Jangan seperti pungguk merindukan bulan.
Memang Tuhan bersama prasangka dan doa hamba-Nya, namun jika doa yang
dilambungkan hanya bagaikan khayalan, maka ubahlah doa yang ambisius itu
menjadi doa yang seakar dan seidentik dengan kata “mengikhlaskan.”
Coba cermati suluk berikut ini:
Sri tinon ing paséwakan,
Busana manéka warna,
Sèbak puspitèng udyana,
Myang panjrahing sarwa rukma,
Rênggèng manik narawata,
Abra prabanya sumirat,
Kênyaring téja lêliwêran,
Lir kilat sisiring thathit,
Wimbuh gêganda mrik minging,
Katiyuping maruta manda,
Saparan mangambar kongas.
Tampak indah di bangsal (tempat
menghadap raja),
Pakaian beraneka warna,
Semerbak wangi bunga bagai taman,
Juga bertebaran -hiasan- serba emas,
Hiasan permata dimana-mana,
Gemerlap berkilauan cahayanya,
Berpendar-pendar pantulan sinarnya,
Seperti kilat yg menyambar-nyambar,
Ditambah -lagi- bebauan yg -tajam-
menusuk,
Tertiup oleh angin sepoi-sepoi,
Dimana-mana baunya tercium.
Sama
halnya, jika kemudi bulat yang kau pertontonkan. Tak kepanasan. Sedang aku,
kemana-mana masih dalam status yang sama, menghitung paving jalan. Tak berkelas.
Aku
yang hanya kalangan sudra, mengharap menjadi anggota keluarga kesatria. Janganlah
bermimpi, “bangunlah, kawan!.” Harimu masih panjang, dan lamunanmu tak
berkesudahan. Buatlah harimu bahagia, sebahagia jika hanya Tuhan yang ada di
setiap langkah.
Komentar
Posting Komentar