KETIKA ANAK MELARAT BERJUANG DI KASTA NINGRAT,
Mungkin kali
ini aku menulis jauh dari kata sendu, tak apalah, sesekali, biar aku kelihatan
masih hidup dan bebas berekspresi. Haha.
Mau ngomongin
Indonesia juga kejauhan, yasudahlah ngomongin yang kutengok-tengok aja di sekitaran.
Bukan nengok anak gadis tetangga seberang rumah, loh, ya, cuma nengokin stori
orang-orang aja sengenanya.
***
Setelah kuamati,
ada beberapa yang mengeluhkan tentang persyaratan tes UTBK-SBMPTN tahun ini
yang persyaratannya harus menunjukkan rapid test dengan hasil non
reaktif atau swab test dengan hasil negatif, dan ini berlaku
selambat-lambatnya empat belas hari sebelum pelaksanaan ujian diselenggarakan dengan
diperlihatkan kepada panitia.
Ada yang
mengajukan protes dan merasa terbebani, umumnya dari keluarga yang
berpenghasilan menengah ke bawah. Kebijakan itu dinilai tidak memperhatikan
keadaan sosial masyarakat kelas rendah yang juga ingin menikmati hak nya untuk
mendapatkan pendidikan yang setara di suatu negara. Mengingat, biaya rapid
test atau swab test begitu mahal untuk ukuran penghasilan UMR kabupaten
Lamongan, misal. Menurut Jawa Pos Radar Bojonegoro biaya dalam sekali rapid
test berkisar di tiga ratus lima puluh sampai empat ratus ribu rupiah. Belum
lagi yang UMR nya di bawah kabupaten Lamongan, Magetan nih, yang penghasilan
UMR-nya di angka satu juta semilan ratus ribu sekian rupiah. Ini masih enak,
bergaji tetap, bagaimana jika salah satu orang tua yang bersangkutan terkena
PHK? Beda urusan lagi pastinya.
Di pojok
kabupaten Lamongan juga masih ada kampung yang kalau masa penghujan tak pernah
absen dari banjir, di mana di sebagian kabupaten Lamongan lainnya sudah merasa
kekeringan, di desa tersebut masih berkutat memagari tambak-tambak mereka
dengan jaring bahan kerambah. Untuk apa? Agar benih ikan yang ditanam tak
keluar kemana-mana, masih berikhtiar supaya nanti ketika panen masih ada sisa. Otomatis,
musim penghujan dirasa begitu panjang meski hujan sudah lama tak mengguyur
daerah tersebut. Dan, musim kemarau dirasa begitu sebentar. Di tengah situasi tanam
padi tiba, harus rela cemas dihantui gagal panen yang bisa menyergap kapan saja
jika banjir kiriman mendadak datang tanpa beruluk sapa. Lantas? Dari mana
penghasilan?, ikan habis kena banjir, padi juga hancur terkena banjir. Apakah
lebih enak dari gaji UMR?.
Mungkin itu
kiranya yang dirasakan oleh pengunggah kegundahan di story tadi. Lebih jelasnya
aku tak tahu, mau kutanyakan tapi aku takut mengganggu.
Memang,
pendidikan merupakan investasi terbesar bagi suatu bangsa, sampai-sampai dana
yang digelontorkan untuk beasiswa tak main-main besarannya. Menurut cerita
teman awardee LPDP, mereka yang keterima Ph.D di luar negeri dan
mengambil bidang kesehatan, negara menyiapkan uang satu M untuk setiap
tahunnya. Jika lama pendidikan Ph.D adalah empat tahun, sudah empat M yang dihabiskan
untuk satu lulusan. Dan kalikan saja, ada berapa banyak alumnus LPDP yang sudah
menyebar di nusantara tercinta ini.
Harusnya, lebih
baik untuk beasiswa strata satu yang besar-besaran atau untuk tingkat strata
tiga yang besar-besaran? Yang jelas, aku tak bisa menjawabnya.
Beberapa kali
aku juga melihat seminar yang membahas tentang ketahanan pendidikan di
Indonesia dengan menghadirkan beberapa pemateri penerima program beasiswa,
mohon maaf nih, ya, bukan tak suka atau tak respect, aku juga termasuk
penerima beasiswa dua kali di S1 dan S2 ini, namun, jika tema upgreading
diri dan ketahanan pendidikan narasumbernya hanya terlihat keren dengan bisa
menaklukkan beasiswa bergengsi, dari mana datangnya kata ketahanan tersebut. Harusnya
yang didatangkan mereka yang kuliah sambil jualan es tebu, mereka yang kuliah
sambil menjadi tutor siang malam, dan mereka yang melanjutkan kehidupan di kota
besar namun sambil khidmah di pesantren. Mereka bisa bertahan tanpa bantuan
dari siapa-siapa. Itulah hasil akhir dari pendidikan, yaitu memandirikan.
Ini hanya soal
prespektif, tak ada yang benar dan salah, hanya kecocokan dan ketidakcocokan
semata. Sama seperti inventori kepribadian yang banyak salah disebut tes kepribadian.
Entahlah, aku
ngaco yang jelas malam ini.

Komentar
Posting Komentar