ENTAHLAH; KADANG SEBERCANDA ITU,

Setelah aku mengapungkan beberapa postingan kemarin, ternyata banyak yang mengamini hal serupa. Seperti halnya gayung bersambut, rasanya pas sekali dengan kondisi mereka –banyak orang yang bernasib sama. Aku akan memulai lagi dengan membaca astaghfirullaha al-adzim, innaka ta’lam madza urid, wa la a’lamu madza turid.­

Ada satu fenomena yang menurutku ini sudah menjadi cerita klise; yang sudah biasa dilakukan dibalik meja, samar-samar namun masif dijalankan. Entahlah, apakah ini bagian dari manajemen pengendalian mutu atau bias pemahaman tentang self dan identitas.

Dia; yang bercerita kemarin adalah salah satu adek kelasku –itupun kalau aku diakui oleh dia sebagai kakak kelasnya. :’( . Sebelumnya aku sudah mengetahui beberapa story whatsapp yang mentereng di layar gadgetku. Dia mempertontonkan percakapan antara dirinya dengan salah satu contact person madrasah yang membuka lowongan pekerjaan sebagai pengajar Baca Tulis Alquran –BTQ. Singkat cerita, dia mendaftarkan diri dan memenuhi persyaratan yang tertera dalam brosur rekrutmen tadi. Mulai dari ijazah/sertifikat Alquran, foto KTP, curiculum vitae, surat lamaran, dan terakhir surat bebas korona, kemudian semua berkas dikirimkan dalam bentuk pdf. Akhirnya, dia mendapatkan panggilan untuk melaksanakan sesi tes dan wawancara.

Meski di waktu pandemi seperti ini, pihak madrasah tidak menggunakan sistem daring. Sang pelamar diwajibkan hadir memenuhi undangan secara tatap muka. Dan dia menyanggupi, pun melaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.


Hari mulai siang, namun matahari belum kejam menjangkiti. Di saat itulah dia mulai beranjak untuk memenuhi panggilan tes. Sampai di madrasah dia tak langsung diberondong banyak pertanyaan. “Wong aku cuma ditanya-tanya, e, Mas, dulu pernah mondok di mana?, sekarang tinggal di mana?, kuliah jurusan apa?, dan memiliki hafalan berapa banyak?. Cuma itu saja Mas. Padahal harusnya aku dites hafalanku, karena ada syarat memiliki hafalan minimal lima juz.” Lanjutnya menerangkan. “Berarti kamu langsung diterima dong, wong simpel pertanyaannya.” Aku mempertegas penjelasannya. “Langsung diterima apaan, Mas. Wong raut muka berubah ketika aku menyebutkan lulusan mana dan tinggal di mana, malah aku dibilangin kalau ijazahku palsu, dan bisa dibuat-buat, kok; sumpah Mas, pengen kujitak aja orang tadi itu, lama aku mondok dibilang ijazahku palsu dan bisa dibuat sendiri, e. Terus kalau jurusan BKI, mah, hafalannya susah, dan sering ilang dan gak lancar.”

Aku sih santai saja nanggepinya, “mungkin itu bagian dari shockterapi, Leh, ngetes kamu, bagaimana kamu bersikap setelahnya.” Kalaupun mau protes, ijazah pondok sebelum tahun 2019 belum bisa dicek keabsahannya via SIVIL atau via Forlap Ristekdikti. Iya, karena sebelum tanggal itu UU Pesantren belum disahkan. UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren baru disahkan oleh Presiden bersama anggota DPR di Jakarta pada tanggal 15 Oktober 2019. Maka, sebelum tanggal itu ijazah pondok masih dianggap sebagai ijazah non-formal dan belum diakui kesetaraannya/muadalah. Sehingga kalau mau membantah oknum yang mengatakan ijazah palsu, iya, buang-buang waktu.

“Terus kamu bilang kalau tinggal di masjid Muhammadiyah itu?, terus, kamu juga bilang kalau jadi imam di situ?” tanyaku lagi padanya. “Iya, Mas.” Jawabnya. Dalam hati aku membatin, “sampai kiamat kurang dua hari, dan seharinya buat kamu taubat, gak bakal diterima, wong madrasah yang kamu daftari murni madrasah NU. Dan madrasah itu getol sekali menyuarakan pengembangan pendidikan madrasah-madrasah NU.” Tapi hanya kugumamkan, tak enak rasanya kalau di saat seperti itu dia malah kujerumuskan. Hahaha.

Setelah itu aku berkata kepadanya agar lebih dalam belajar ilmu peluang, kalau orang Jawa bilang “ilmu titen.” Memang, ilmu ini lebih mengedepankan pengamatan dan perasaan, dan tidak ada bukunya. Mbah-mbah dulu sering berkata sok kala mangsane –besok pada waktunya- dalam memberikan nasihat, tandanya, mbah-mbah dahulu pintar dalam ilmu titen. Sekilas kita sering menganggap remeh, karena perkataan itu tak berdasar sama sekali, tapi kalau dipahami secara mendalam, bahwa manifestasi dari kata iqra’ menurut Profesor Quraish Shihab, membaca tidak serta merta hanya membaca buku, namun membaca alam dan sekitarnya, dan juga dihukumi menjadi sebuah keharusan. Lanjut lagi kalau kita belajar tentang metode penelitian kualitatif, observasi dan pengamatan menjadi hal penting yang tidak boleh ditinggalkan dalam menemukan data lapangan. Untuk itulah, belajar ilmu peluang akan memberikan gambaran segala sesuatu yang akan terjadi dan mungkin mendekati kenyataan dari prediksi sebelumnya.

Mungkin Tuhan mempunyai rencana lebih dalam penempatan hamba-Nya. Dan tugas kita hanya satu, ialah menanggapi RESPON tersebut. Inilah seni MENGUBAH energi negatif menjadi positif. Layaknya Bernie Eccelostone –pendiri Formula One Group- yang mengganti makian yang seharusnya ia lesatkan karena dirampok dan dipukul habis-habisan hingga babak belur dan juga harus kehilangan jam tangan merk “Hublot” seharga empat M. Namun apa yang terjadi, ia memfoto wajahnya yang sudah tak terbentuk lagi, kemudian mengirimkan kepada CEO Hublot sebuah pesan, “see what poeple will do for a Hublot?.” Ini adalah komplain yang sederhana dari bos F1, tapi tajam!. Kebanyakan orang akan menutup komplain yang negatif agar industri yang dia kelola tak ketahuan bercacat. Tapi CEO Hublot berbeda, dia meminta izin untuk membuat foto bos F1 yang babak belur sebagai iklan sekaligus meminta agar Hublot menjadi jam resmi F1. Akhirnya keuntungan didapat dari kedua bela pihak.

Ini sudah terlalu panjang. Oke, lain kali aku teruskan lebih dalam pembahasan self dan identitas sosial. Meski ini sudah menyinggung sedikit. Mudah-mudahan aku masih ingat. Dulu aku mempelajarinya tiga SKS dalam mata kuliah Psikologi Sosial yang diampu bapak Drs. Sjahudi Siradj, M.Si. dosen sepuh yang penuh dengan kemisteiusan. Hehe.


Komentar

Postingan Populer