Emak dan Amplop Kecilnya: Kenangan yang Tersimpan
Beberapa hari silam membuka dompet emak yang tersimpan di lemari gandeng meja belajar. Isinya, selain kartu identitas, juga dua amplop bercap instansi. Amplop itu saya berikan beberapa tahun yang lalu sebagai tanda bahwa saat itulah saya dapat gaji untuk pertama kalinya. Amplopnya sudah usang. Nyaris putus bagian penutupnya. Isinya tidak seberapa. Dan, emak saya mensyukurinya.
Selain itu, ada juga amplop oleh-oleh uang Real dari tetangga pulang haji. Nominalnya hanya “lima”. Coklat sedikit keabuan. Dijadikan penunggu dompet. Dibiarkan saja. Toh, gak laku di desa kami. Akhirnya jadi “jimat.” Batinnya dulu, dengan wasilah uang itu, anak-anaknya bisa segera ziarah ke Makkah-Madinah. Amiin.
Melihat beberapa amplop tadi, memori saya menguar kemana-mana. Tidak menyangka, sudah 100 hari emak bertemu datuk-nininya di alam penantian panjang. Saya, yang sering bertemu lewat mimpi, masih saja terasa rindu. Pertemuan yang nyata hanya menjadi bayang semu yang mustahil akan bisa terjadi. Untuk itulah, doa satu-satunya menjadi jalan penghubung kerinduan yang sulit diutarakan jika belum pernah merasakan.
***
Seminggu merawat emak di RS hingga wafatnya, bagi saya adalah suatu momentum terindah. Saya bisa leluasa mengobrol -meski hari-hari sebelumya saya rutin minimal dua hari sekali melakukan panggilan video, menyuapinya, memijatnya, mengganti pampersnya, memandikannya, sekaligus merapikan sambil mengelus rambutnya yang sudah memutih, dan mencium keningnya ketika terlelap.
Kadang, di saat memijat kakinya, saya teringat momen ketika saya diajaknya mencari kayu bakar di belakang rumah. Juga mencari siput kecil untuk makanan unggas. Kaki yang saya pijit tadi, dulunya pernah terkena duri bambu dan pecahan kulit gondang (sejenis siput). Saya merasa sedih, kesehatannya tak kunjung pulih. Saya tidak ingin menampakkan kesedihan itu di hadapannya. Selalu ngempet nangis, dan kalaupun mewek sepuasnya, saya melakukannya di masjid RS, ketika izin salat dan sekaligus mencari makan. Plong.
Dalam setiap obrolan sambil terbaring, dan di saat saya menyuapinya, ada beberapa pesan yang saya ingat, dan saya anggap sebagai wasiat. Emak saya berpesan “Nek lapo-lapo seng temen, wong temen bakale nemu.” Jika diartikan dengan bahasa lepas, begini kira-kira: kalau mau melakukan apa saja, yang sungguh-sungguh, biar berhasil. Ibu saya tahu, kalau anaknya ini sering mengeluh. Seringkali merasa bosan kalau sedang mengerjakan sesuatu. Sehingga, naluri seorang yang pernah melahirkan tahu persis sifat anaknya.
“Biyen metengmu, aku ngipi dielus-elus wetengku karo Mbah San Ari, Balun. Sing sabar, ditlateni ae nang Sunan Ampel, rejekimu gak bakal adoh tekan kono.” Pesan yang kedua ini sengaja tidak saya artikan. Saya tidak ingin menjadi ain, apalagi menjadi patokan kebenaran. Emak saya acapkali berseloroh jika saya tidak boleh jauh dari Sunan Ampel, sebuah diksi yang ia maksudkan untuk UIN Sunan Ampel Surabaya. Mungkin, emak saya menginginkan saya agar dekat dengan walinya Allah.
Saya sebenarnya tidak ingin menjadikan “pesan” yang kedua ini sebagai patokan. Nyatanya, saya daftar beasiswa di Malang saja berakhir kandas. Sehari sebelum pengumuman diudarakan, lewat mimpi emak hadir dan mendekap kuat, agar saya tidak berpindah ke tempat lain. Lagi-lagi, saya disuruh menetap di Sunan Ampel.
Pesan yang kedua sejatinya tidak layak dikonsumsi publik. Harusnya saya menelan sendiri sebagai bentuk renungan dan instrospeksi diri. Namun, saya hanya ingin mengamini kiai saya, Abah Ali Maschan Moesa, yang sampai kapanpun tidak akan berpaling dari pesan emaknya meski telah lama tiada. Kekeramatan hadir atas dua prinsip emak beliau yang memesan kebaikan, dan beliau menjalankan pesan kebaikan.
***
Rasanya berat melaksanakan beberapa pesan emak di atas. Kalau boleh memilih, lebih baik pesan itu disimpan dulu, baru sepuluh tahun lagi emak melayangkannya. Namun, apa boleh buat, saya anggap sebagai wasiat yang harus ditunaikan. Dilakoni ndisek, embuh engko, meminjam Arek Suroboyo. Dilaksanakan dulu, entah nanti. Sebab Gusti Allah senantiasa bersama orang nekat. Dan pada puncak kenekatannya akan tawakal. Dan tawakal adalah jalan pembuka ridla-Nya.
Dua Minggu ini, rasanya melow banget. Lebih sensitif. Apalagi ketika mendengar lagu “Ibu”-nya Iwan Fals, “Untukmu Ibu”-nya Exist, “Ummi”-nya Haddad Alwi, “Ibu”-nya Haddad Alwi feat Farhan, “Bunda”-nya Potret, maupun “Keramat”-nya Bang Haji Rhoma Irama.
Tapi, saya menikmati sensitivitas ini. Menikmati sensasi kesedihan, kerinduan, yang bercampur cinta. Indah.

Komentar
Posting Komentar