JIKA DITAKDIRKAN MEMILIH? SAYA MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH

“Sampean kata Mbak Novi kemarin daftar-daftar, ya?, dan ndak ada yang nyangkut?”.

Ini prolog yang tidak saya duga sebelumnya. Baru saja dipersilahkan duduk, tapi sudah ditodong pertanyaan seperti itu. Dalam hati, “Kayaknya akan ada angin segar ini.” 

Sebagai seorang santri, pantang bagi saya untuk menjawab, meski sebenarnya lewat diam yang saya ciptakan beliau sudah paham bahwa saya telah mengafirmasi pertanyaannya tadi. Dari pada saya nanti salah-salah dalam berkata, yasudah, diam menjadi solusi yang pas dan tidak mengandung banyak masalah.

Hening terjadi beberapa saat, lalu beliau mempersilahkan saya untuk mengambil air minum dan menikmati jajanan yang telah disediakan di meja.

“Memang nasib dan kepintaran itu dua hal yang berbeda, dan tidak semua berjalan beriringan. Tidak usah berspekulasi ini dan itu, sudah diatur semua oleh Allah. Sama juga saya bilang ke Mbak Novi kemarin, bukan alasan karena sainganmu keponakan rektor, memang Allah memilihkan kamu lebih baik nantinya, dari apa yang telah ada dan terjadi sekarang. Termasuk juga Yusuf.”



Bukan Pak Yai Khotib kalau gak betah ngendikan. Selama dua jam setengah saya (terlihat) khusyuk mendengarkan sabda pandhita ratu-nya. Dari mulai mengajari saya untuk investasi, sampai menasehati agar tidak menjadikan satu pekerjaan sebagai sumber utama penghasilan. Memang, tidak diragukan lagi aset yang beliau miliki. Selain sebagai seorang dosen PNS di UIN Sunan Ampel Surabaya, beliau juga memiliki banyak villa di Bali, tanah-tanah yang ada di seberang desa juga banyak yang sudah beralih nama menjadi nama beliau, bahkan, Koperasi Syariah atas nama Pesantren yang sudah memiliki enam cabang, juga pendiriannya atas inisiasi beliau. Kalau ibarat doa yang sering saya baca, ini yang dinamakan fi ad-dunya hasanah.

Saya kira angin segar yang saya gumamkan tadi ialah penawaran atas penolakan kemarin-kemarin. Namun, begitulah lakon yang Allah gariskan, tidak semua yang saya tuju bisa menjadi padu. Ternyata saya masih dihadapkan pada rintangan-rintangan yang lain. Disuruh belajar lebih keras lagi, dan disuruh mendekat lebih intim lagi.

“Nek tak pikir-pikir sampean kayaknya bisa, ini. Asyik pokoknya kalau sampean mau.” Lanjut beliau sambil menepuk paha kiri saya.

“Saya ada niatan untuk membuka cabang baru tanpa kantor.” Sampai pada kalimat itu, saya menebak-nebak, jangan-jangan ini bahasan masalah koperasi. Dan, ternyata benar. Intinya, sampai pada kalimat itu bayangan di kepala saya mulai pudar, memutar otak bagaimana menghadapinya nanti kalau jadi.

Saya masih terus mendengarkan, sementara otak di kepala disibukkan dengan menimbang-nimbang. Meski beliau tidak menyuruh saya untuk ngantor sebagaimana petugas yang lain, namun ada rasa bersalah nanti ketika saya mengatakan bahwa, “Mohon maaf, Pak, Yusuf belum mampu.” Beliau lanjut menerangkan bagaimana teknik dan cara membuka cabang tanpa kantor tadi, dan benar saja, hati dan otak di kepala saya mulai panas sejalan dengan paksaan yang mulai saya gas.  

Di pertemuan dua jam setengah tadi, tidak hanya itu, ada satu lagi yang juga beliau tekankan: Sebagai seorang dosen, beliau dituntut untuk menjalankan tri dharma perguruan tinggi, spesifiknya dalam bidang penelitian yang dirasa banyak ditinggalkan. Alasannya klasik, apalagi kalau bukan karena banyaknya kesibukan. Beliau memasrahkan seluruh akses terkait dengan ke-dosen-annya kepada saya agar dikelola sebagimana mestinya. Apalagi beliau memiliki besan yang professor, dorongan dari besannya itu yang membuat beliau mau dan maju. Sejak pagi ini, beliau melantik saya dengan tidak resmi untuk menjadi asisten pribadi.

Di bagian ini saya mulai tertarik. Saya sungguh-sungguh mendengarkan. Sesekali saya timpali dengan anggukan kepala, lanjut dengan menyahuti pembicaraan yang mungkin bagi saya mulai senada. Pokoknya, dalam hal beginian saya merasa tertantang.

Pagi ini menjadi pagi yang berat bagi saya, menentukan pilihan yang mesti harus saya jawab di kemudian hari. Antara iya atau tidak, harus ditentukan dengan segera. Jangan sampai ada kualat yang membersamai kehidupan saya di kemudian hari. Saya sungguh benar-benar harus memikirkan matang-matang.

Oh, iya, tadi pas di jalan samping pasar saya juga bertemu dengan bapak-bapak yang sedang memarkir motor. Kalau ingat dia, saya ingat anaknya. Ah, gagal dah jadi menantunya. Hehehe.

23 Januari 2022

MY

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer